TAJUKNASINAL.COM PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), perusahaan pengolahan dan eksportir udang yang sebagian sahamnya dimiliki Kaesang Pangarep melalui PT Harapan Bangsa Kita, mengajukan restrukturisasi pinjaman kepada sejumlah perbankan setelah menghadapi tekanan likuiditas dan keterbatasan modal kerja.
Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), perseroan memiliki kewajiban kredit kepada enam lembaga keuangan dengan total outstanding sekitar Rp2,8 triliun, di luar kewajiban bunga pinjaman.
PMMP mengungkapkan kondisi tersebut membuat perusahaan mengalami keterbatasan modal kerja untuk menjalankan operasional secara optimal.
Dalam keterbukaan informasi, manajemen menyebut perseroan membutuhkan tambahan modal kerja sekitar 15 juta dolar AS atau setara sekitar Rp269 miliar untuk mendukung kegiatan operasional.
Saat ini, PMMP hanya mengoperasikan satu fasilitas pengolahan di Situbondo. Untuk memenuhi permintaan ekspor, perusahaan menerapkan skema pembelian produk jadi dari pihak lain dengan pembayaran dilakukan setelah hasil ekspor diterima.
“Sementara ini perseroan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan pembayaran di belakang setelah hasil ekspor diterima oleh perseroan,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi.
Berdasarkan data perusahaan, kewajiban terbesar berasal dari pinjaman kepada PT Bank Permata Tbk dengan outstanding sekitar 53,12 juta dolar AS atau sekitar Rp953,4 miliar, ditambah fasilitas kredit sebesar Rp5,49 miliar.
Selain itu, PMMP juga memiliki pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk sekitar Rp723 miliar, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia sekitar Rp551,2 miliar, PT Bank SMBC Indonesia Tbk sekitar Rp409,1 miliar, PT Bank Maspion Indonesia Tbk sekitar Rp129,4 miliar, serta PT Bank Resona Perdania sekitar Rp107,5 miliar.
“Saldo tersebut di atas di luar utang bunga,” tulis manajemen PMMP.
Tekanan keuangan turut berdampak terhadap aktivitas produksi perusahaan. Berkurangnya kapasitas operasional menyebabkan efisiensi tenaga kerja dilakukan sejak 2024.
PMMP mencatat telah melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 37 karyawan staf dan 79 pekerja harian. Selain itu, sebanyak 82 staf dilaporkan mengundurkan diri.
