Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia atau PSI, Ahmad Ali, kembali menemui Presiden ke-7 RI Joko Widodo di kediamannya di Sumber, Banjarsari, Solo. Pertemuan yang berlangsung lebih dari satu jam itu langsung menarik perhatian karena membahas rencana Jokowi keliling Indonesia.
Ahmad Ali mengatakan, rencana perjalanan Jokowi tersebut digagas oleh relawan Pro Jokowi atau Projo. PSI, kata dia, nantinya akan berkoordinasi dengan Projo terkait teknis agenda tersebut.
Namun, pernyataan Ahmad Ali ini justru memunculkan sorotan politik baru. PSI dinilai semakin menunjukkan kedekatan dan ketergantungannya pada figur Jokowi, terutama karena Ketua Umum PSI saat ini adalah Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi.
“Kan yang merencanakan ini teman-teman Projo dan nanti pasti kita akan berkoordinasi dan juga melihat kondisi kesehatan,” kata Ahmad Ali kepada awak media, Rabu (20/5).
Menurut Ahmad Ali, faktor kesehatan Jokowi menjadi hal penting yang harus diperhitungkan sebelum agenda keliling Indonesia dilaksanakan. Ia menyebut kondisi Jokowi saat ini sudah pulih dan semangatnya untuk bertemu masyarakat masih kuat.
Ahmad Ali bahkan menyampaikan bahwa Jokowi justru merasa lebih sehat apabila bertemu masyarakat. Pernyataan ini memperkuat kesan bahwa agenda keliling Indonesia tidak hanya dipandang sebagai kunjungan biasa, tetapi juga dapat dibaca sebagai manuver politik pasca-Jokowi tidak lagi menjabat presiden.
“Cuma masalahnya Pak Jokowi ini kalau tidak ketemu masyarakat, tidak ketemu orang, justru sakit,” ujar Ahmad Ali.
Meski demikian, Ahmad Ali tidak menjawab secara jelas kapan Jokowi akan mulai berkeliling Indonesia bersama dukungan PSI. Ia hanya memastikan bahwa kader-kader PSI di daerah akan menyambut apabila Jokowi turun menyapa masyarakat.
Sikap PSI tersebut menimbulkan tanda tanya. Sebagai partai politik, PSI seharusnya mampu membangun kekuatan melalui gagasan, kaderisasi, dan kerja politik mandiri. Namun, kedekatan yang terus ditonjolkan dengan Jokowi membuat PSI tampak belum bisa sepenuhnya lepas dari bayang-bayang mantan presiden tersebut.
Ahmad Ali menyebut perjalanan Jokowi sebagai bentuk napak tilas dan kerinduan terhadap rakyat. Akan tetapi, dalam konteks politik nasional, rencana ini berpotensi dibaca sebagai upaya menjaga pengaruh politik Jokowi di berbagai daerah.
Dalam pertemuan itu, Ahmad Ali juga mengaku meminta nasihat Jokowi untuk perjalanan politik PSI ke depan. Selain itu, keduanya membahas perkembangan politik Indonesia saat ini.
Pernyataan tersebut semakin menegaskan bahwa Jokowi masih menjadi figur penting dalam arah politik PSI. Di satu sisi, dukungan Jokowi bisa menjadi modal elektoral. Namun di sisi lain, ketergantungan berlebihan pada satu tokoh dapat membuat PSI kesulitan membangun identitas politik yang kuat dan independen.
Rencana Jokowi keliling Indonesia bersama dukungan Projo dan sambutan kader PSI kini menjadi sorotan. Publik menunggu apakah agenda tersebut murni sebagai silaturahmi dengan masyarakat, atau bagian dari langkah politik baru yang melibatkan jaringan relawan dan partai yang dekat dengan keluarga Jokowi.
