Senin, 19 Januari, 2026

Baru 3 Bulan Menjabat, PM Jepang Sanae Takaichi Bubarkan Parlemen

TAJUKNASIONAL.COM Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi secara mengejutkan mengumumkan pembubaran parlemen, hanya tiga bulan setelah resmi menjabat sebagai perdana menteri perempuan pertama dalam sejarah Negeri Sakura.

Langkah politik besar ini diambil untuk mempercepat pemilihan umum nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 8 Februari 2026.

Pembubaran majelis rendah Jepang akan dilakukan pada 23 Januari mendatang.

Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh Takaichi dalam konferensi pers dan menandai dimulainya kontestasi politik yang akan menentukan arah pemerintahan Jepang ke depan.

“Hari ini, saya sebagai perdana menteri, telah memutuskan untuk membubarkan majelis rendah pada 23 Januari,” ujar Takaichi, seperti dikutip dari Reuters.

Baca Juga:  PM Jepang Sanae Takaichi Dikecam Usai Gelar Rapat Pukul 03.00 dan Akui Hanya Tidur 2-4 Jam

Pemilu dini ini akan memperebutkan seluruh 456 kursi majelis rendah dan menjadi ujian perdana bagi kepemimpinan Takaichi sejak menggantikan pendahulunya.

Perempuan berusia 64 tahun itu menyatakan siap mempertaruhkan masa depan politiknya demi mendapatkan mandat langsung dari rakyat Jepang.

“Saya mempertaruhkan masa depan politik saya sendiri sebagai perdana menteri pada pemilihan ini. Saya ingin publik menilai secara langsung apakah mereka akan mempercayakan saya untuk mengelola negara,” tegasnya.

Langkah mempercepat pemilu dinilai sebagai strategi Takaichi untuk memanfaatkan tingkat dukungan publik yang masih relatif tinggi.

Selain itu, pemilu dini diharapkan mampu memperkuat posisinya di internal Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa, sekaligus mengamankan mayoritas koalisi pemerintahan bersama Partai Ishin.

Dalam kampanyenya, Takaichi menonjolkan agenda ekonomi agresif, mulai dari peningkatan belanja negara, pemotongan pajak, hingga penguatan strategi keamanan nasional.

Salah satu janji utamanya adalah penghentian sementara pajak konsumsi sebesar 8 persen untuk bahan makanan selama dua tahun, sebagai upaya menekan beban hidup masyarakat.

Kebijakan pengeluaran negara yang ia dorong juga ditujukan untuk menciptakan lapangan kerja baru, mendorong konsumsi rumah tangga, dan pada akhirnya meningkatkan penerimaan pajak jangka panjang.

Baca Juga: PM Jepang Sanae Takaichi Dikecam Usai Gelar Rapat Pukul 03.00 dan Akui Hanya Tidur 2-4 Jam

Di sisi lain, tantangan besar menanti Takaichi. Berdasarkan survei lembaga penyiaran publik NHK, sekitar 45 persen responden menyebut kenaikan harga sebagai isu paling krusial bagi pemilih, disusul oleh isu diplomasi dan keamanan nasional.

- Advertisement -
- Advertisement -spot_imgspot_img
Berita Terbaru
- Advertisement -
Berita Lainnya
Rekomendasi Untuk Anda
- Advertisement -
- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini