Selasa, 6 Januari, 2026

Usai Tangkap Nicolas Maduro, Donald Trump Buka Akses Perusahaan Minyak AS ke Venezuela

TAJUKNASIONAL.COM Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan membuka pintu bagi perusahaan minyak asal Amerika untuk kembali masuk ke Venezuela.

Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah agresi militer AS yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Sabtu (3/1/2026).

Trump mengatakan perusahaan minyak raksasa AS akan diizinkan menggelontorkan investasi besar untuk memperbaiki infrastruktur migas Venezuela yang selama bertahun-tahun mengalami kerusakan parah akibat sanksi dan salah urus.

“Kita akan mengizinkan perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara itu,” ujar Trump dalam konferensi pers di Florida, dikutip AFP.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa embargo terhadap minyak Venezuela tetap diberlakukan secara penuh.

Baca Juga: Donald Trump Klaim AS Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Situasi Politik Caracas Memanas

Ia menyebut kebijakan ini sebagai langkah strategis untuk memastikan kontrol ketat atas industri energi negara tersebut.

“Embargo terhadap semua minyak Venezuela tetap berlaku sepenuhnya,” tegas Trump.

Amerika Serikat diketahui telah menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Venezuela sejak 2017, yang diperluas menjadi sanksi minyak pada 2019.

Kebijakan tersebut membuat industri migas Venezuela terpuruk meski negara itu memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia.

Berdasarkan data Administrasi Informasi Energi AS (EIA), Venezuela memiliki cadangan minyak sekitar 303 miliar barel atau setara 17 persen cadangan minyak global.

Angka ini melampaui cadangan minyak Arab Saudi yang mencapai 267 miliar barel, Iran 209 miliar barel, serta Irak 145 miliar barel.

Analis minyak dari Kpler, Matt Smith, mengatakan produksi minyak Venezuela pernah mencapai puncaknya pada akhir 1990-an dengan 3,5 juta barel per hari.

Namun, produksi tersebut terus merosot drastis dalam dua dekade terakhir.

“Produksi minyak Venezuela saat ini diperkirakan hanya sekitar 800 ribu barel per hari,” ujar Smith.

Baca Juga: Donald Trump Klaim AS Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Situasi Politik Caracas Memanas

Sebagai perbandingan, produksi minyak Amerika Serikat pada akhir Desember lalu mencapai sekitar 13,8 juta barel per hari, menjadikannya produsen minyak terbesar dunia.

Trump menuding pemerintah Venezuela selama ini menggunakan pendapatan minyak untuk aktivitas ilegal.

Ia mengklaim dana tersebut dipakai untuk membiayai “terorisme narkoba, perdagangan manusia, pembunuhan, dan penculikan.”

Pada awal masa jabatan keduanya di 2025, Trump juga mencabut hampir seluruh izin operasi perusahaan migas asing di Venezuela.

Satu-satunya pengecualian adalah Chevron, perusahaan asal AS yang tetap diizinkan beroperasi.

- Advertisement -
- Advertisement -spot_imgspot_img
Berita Terbaru
- Advertisement -
Berita Lainnya
Rekomendasi Untuk Anda
- Advertisement -
- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini