Pengamat Arctic Institute, Pavel Devyatkin, menilai Nielsen sedang memainkan strategi seimbang. Ia ingin membuka peluang kerja sama ekonomi dengan AS, tetapi tetap menjaga hubungan erat dengan Denmark yang selama ini menjadi penopang utama Greenland.
“Dia ingin investasi Amerika, tetapi menolak membiarkan Greenland diperlakukan sebagai wilayah yang bisa diambil begitu saja,” ujar Devyatkin.
Dengan dinamika geopolitik yang kian memanas, sikap tegas Nielsen menunjukkan bahwa Greenland memilih mempertahankan kedaulatan politiknya sambil tetap bersikap pragmatis dalam menghadapi kekuatan besar dunia.
Baca dan Ikuti Media Sosial Tajuk Nasional, KLIK DISINI


