TAJUKNASIONAL.COM Isu keamanan nuklir kembali menonjol di tengah rapuhnya situasi kawasan. Setelah rangkaian serangan pada tahun lalu merusak sejumlah infrastruktur strategis, perhatian kini bergeser ke ancaman “sisa perang” yang kerap terlupakan: material berbahaya yang tertinggal di lokasi konflik.
Di Iran, hal ini bukan sekadar soal puing, melainkan menyangkut klaim adanya amunisi yang belum meledak di fasilitas nuklir—yang berpotensi menghambat akses pengawasan internasional.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bom Amerika Serikat yang belum meledak masih berada di fasilitas nuklir yang diserang tahun lalu.
Klaim itu disampaikan dalam pernyataan yang dikutip media Young Journalists Club milik Iran pada Minggu (9/2).
Araghchi menyebut ia telah menyampaikan hal tersebut kepada Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi, termasuk usulan agar ada aturan hukum dan protokol khusus sebelum kunjungan “inspeksi” dilakukan ke fasilitas yang menjadi sasaran serangan.
Menurut Araghchi, Grossi menjawab tidak ada aturan atau protokol khusus yang mengatur hal tersebut. “Tidak, tidak ada ketentuan seperti itu,” kata Araghchi mengutip pernyataan Grossi.
Diplomat senior Iran itu menegaskan perlunya penyusunan protokol sebelum kunjungan apa pun dilakukan.
“Mengingat persoalan keamanan yang masih ada, termasuk keberadaan bom yang belum meledak serta sejumlah hal lain yang perlu disepakati,” ujar Araghchi. Ia menambahkan inspeksi hanya dapat dilakukan setelah tercapai kesepakatan mengenai isu-isu tersebut, sembari menegaskan komunikasi Iran dengan badan PBB itu tetap berjalan.
Konteks ketegangan ini tak lepas dari serangan terhadap Iran pada Juni 2025 yang berlangsung 12 hari, ketika Israel—dengan dukungan AS menurut sejumlah laporan—menargetkan fasilitas militer dan nuklir Iran, sebelum Amerika Serikat ikut membom beberapa lokasi nuklir dan kemudian diumumkan gencatan senjata.
Dalam perkembangan lain, Araghchi belakangan juga menyoroti risiko keselamatan di fasilitas yang terdampak serangan, termasuk kekhawatiran bahaya keamanan dan keselamatan pascakejadian.
Di saat yang sama, perundingan antara Teheran dan Washington dilaporkan kembali berlangsung di Muscat, Oman, setelah eskalasi meningkat menyusul pengerahan militer AS di kawasan Teluk.
Baca Juga: Timnas Indonesia Urung Juara Futsal AFC 2026! Skuad Garuda Takluk Vs Iran Lewat Adu Penalti
Namun Araghchi menegaskan Iran tidak menaruh kepercayaan kepada AS dan menyebut arah pembicaraan masih belum jelas.


