Gerakan ini disebut terinspirasi dari Filmmakers United Against Apartheid tahun 1987, yang saat itu memboikot industri film Afrika Selatan semasa rezim apartheid.
Langkah yang diambil Corenswet memicu perdebatan di Hollywood. Sebagian pihak memuji keberaniannya, sementara yang lain memilih berhati-hati karena isu tersebut dianggap sensitif.
Namun di media sosial, banyak warganet yang memberikan dukungan, bahkan menjulukinya sebagai “Superman di dunia nyata.”
Corenswet, yang diketahui memiliki darah Yahudi, mendapat banyak apresiasi karena dianggap menegakkan nilai-nilai keadilan dan keberanian, selaras dengan karakter yang ia perankan di layar lebar.
Baca juga: Desta Mahendra Jadi Dono di Film Warkop DKI Reborn Terbaru, Gantikan Abimana Aryasatya
Gerakan ini juga mencerminkan semangat solidaritas global dari para seniman terhadap rakyat Palestina. Penulis skenario David Farr, yang merupakan cucu penyintas tragedi Holocaust, turut memberikan dukungan.
“Budaya boikot pernah berperan besar di Afrika Selatan. Kali ini, dampaknya akan sama besar,” ujar Farr.
Baca dan Ikuti Media Sosial Tajuk Nasional, KLIK DISINI


