TAJUKNASIONAL.COM Gelombang super flu yang tengah melanda Amerika Serikat disebut memiliki masa penyembuhan lebih lama dibanding flu biasa.
Virus subclade K yang sedang beredar dikenal lebih agresif karena mampu menembus kekebalan tubuh, baik dari vaksin maupun infeksi sebelumnya.
Menurut Dr. William Schaffner, spesialis penyakit menular di Vanderbilt University, tubuh memerlukan waktu lebih lama merespons peradangan akibat virus ini.
“Setelah influenza menyerang, virus bisa bertahan lebih lama daripada penyakit akutnya. Tubuh tetap bereaksi dengan peradangan, sehingga kamu masih merasa tidak nyaman meski demam sudah mereda,” ujarnya, dikutip dari SELF Magazine, Rabu (7/1/2026).
Gejala super flu tidak hanya meliputi demam, batuk, dan sakit tenggorokan, tetapi juga meninggalkan kelelahan berkepanjangan.
Dr. Amesh A. Adalja, senior scholar di Johns Hopkins Center for Health Security, menyebut kelelahan ini bisa bertahan lebih dari seminggu, meski gejala akut sudah hilang.
Baca juga: Soal Super Flu di Indonesia, Komisi IX DPR RI Tekankan Kesiapsiagaan Sistem Kesehatan
Fenomena ini dikenal sebagai long influenza syndrome, mirip dengan long Covid, namun muncul pasca-infeksi flu.


