Dana itu diduga masuk ke berbagai rekening milik pemain besar dan bergerak lintas wilayah, terutama menuju pusat perdagangan emas di Jawa sebelum akhirnya mengalir ke luar negeri melalui skema ekspor terselubung.
Hinca menyoroti ironi sektor emas nasional. Indonesia tercatat sebagai salah satu dari 10 negara produsen emas terbesar dunia dengan cadangan sekitar 3.600 metrik ton.
Namun produksi resmi justru mengalami penurunan.
Pada 2023 misalnya, produksi nasional hanya berkisar 83 ton, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
Ia juga menyinggung kinerja PT Antam yang hanya mampu memproduksi sekitar 1 ton emas dari tambang sendiri setiap tahun, sementara volume penjualan mencapai lebih dari 40 ton.
Artinya, sebagian besar emas yang beredar berasal dari pembelian pihak lain yang belum jelas asal-usulnya.
Lebih jauh, Hinca menilai tambang ilegal telah membentuk ekosistem bayangan yang lengkap, meliputi jalur logistik, penadah, smelter, hingga rekening perbankan.
Ia mendesak PPATK dan aparat penegak hukum menindaklanjuti temuan tersebut sampai ke tahap penyidikan agar praktik merugikan negara itu dapat dibongkar hingga tuntas.
