TAJUKNASIONAL.COM Child grooming menjadi ancaman serius bagi anak karena sering kali tidak dikenali sebagai bentuk kekerasan.
Praktik ini kerap bersembunyi di balik perhatian, sikap peduli, dan perlindungan yang tampak tulus.
Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menegaskan bahwa child grooming merupakan manipulasi psikologis yang berlangsung bertahap dan dampaknya dapat membekas hingga anak tumbuh dewasa.
Menurut Lahargo, child grooming bukan peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba.
Pelaku biasanya memulai dengan membangun kepercayaan dan kedekatan emosional.
Mereka memosisikan diri sebagai sosok yang paling memahami, paling peduli, dan dianggap sebagai tempat aman bagi anak.
Pada tahap awal, tidak ada perilaku yang tampak melanggar batas.
Namun, di situlah letak bahayanya. Kepercayaan anak perlahan “dicuri” hingga kendali emosional berpindah ke tangan pelaku.
Salah satu tanda awal yang patut diwaspadai adalah perhatian berlebihan dan bersifat eksklusif.
Anak dibuat merasa istimewa dan lebih dekat dengan pelaku dibandingkan orangtua atau lingkungan terdekatnya.
Baca juga: Tak Setuju Childfree Bikin Awet Muda, Annisa Pohan: Punya Anak Justru Bikin Tidak Cepat Tua
Dalam kondisi ini, anak bisa mulai meyakini bahwa hanya satu orang yang benar-benar memahami dirinya.


