TAJUKNASIONAL.COM Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, mendadak menjadi sorotan internasional setelah secara terbuka menolak ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang ingin menjadikan wilayah otonomi Denmark itu bagian dari AS.
Penolakan tersebut justru dibalas Trump dengan pernyataan meremehkan yang menuai kritik luas.
Saat ditanya mengenai sikap Nielsen, Trump mengaku tidak mengenal pemimpin Greenland tersebut.
Ia bahkan menyebut penolakan itu sebagai persoalan besar bagi sang perdana menteri.
“Itu masalah mereka. Saya tidak setuju dengannya. Saya tidak tahu siapa dia. Saya tidak tahu apa pun tentang dia, tapi itu akan menjadi masalah besar baginya,” ujar Trump kepada wartawan.
Baca Juga: Daftar 75 Negara yang Tak Bisa Lagi Ajukan Visa Masuk ke Amerika Serikat, Apakah Indonesia Termasuk?
Sikap Trump tersebut kontras dengan pernyataan tegas Nielsen sebelumnya. Dalam konferensi pers di Copenhagen, PM Greenland menegaskan wilayahnya tidak ingin berada di bawah kendali Amerika Serikat dan akan tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark.
“Greenland tidak ingin dimiliki oleh AS. Greenland tidak ingin diperintah oleh AS. Greenland tidak akan menjadi bagian dari AS,” kata Nielsen.
Ambisi Trump terhadap Greenland bukan hal baru. Presiden AS itu berulang kali menyatakan ketertarikannya pada pulau terbesar di dunia tersebut dengan alasan strategis, terutama menyangkut keamanan nasional dan kepentingan geopolitik Amerika di kawasan Arktik.
Jens-Frederik Nielsen sendiri merupakan perdana menteri termuda Greenland. Ia mulai memimpin di usia 34 tahun setelah partai Demokrat berhaluan kanan-tengah yang dipimpinnya meraih hampir 30 persen suara dalam pemilu parlemen.
Partainya kemudian membentuk koalisi besar bersama Siumut, Inuit Ataqatigiit, dan Atassut, yang menguasai sekitar 75 persen kursi parlemen.
Dalam kampanyenya, Nielsen dikenal mendukung gagasan kedaulatan Greenland yang lebih kuat, bahkan membuka opsi kemerdekaan dari Denmark.
Namun, ia menekankan proses tersebut harus dilakukan secara bertahap dan hati-hati agar Greenland memiliki fondasi ekonomi dan politik yang stabil.
Tekanan dari Trump membuat posisi Nielsen kian diuji. Meski terbuka terhadap investasi Amerika Serikat, Nielsen menolak pendekatan yang memperlakukan Greenland seolah “hadiah” geopolitik.


