TAJUKNASIONAL.COM Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ade Armando, kembali mencuri perhatian publik usai menyampaikan analisis kontroversial terkait isu ijazah palsu Presiden Joko Widodo.
Dalam pernyataannya, Ade mencurigai keterlibatan sejumlah pihak dalam menyebarkan isu tersebut, mulai dari PDIP, kelompok 212, hingga Amerika Serikat.
Menurut Ade, ketegangan antara Presiden Jokowi dan PDIP menjadi latar belakang yang patut dicermati dalam kemunculan isu ini.
Ia menilai, hubungan yang kian panas antara Jokowi, PDIP, dan juga putra Jokowi yang kini menjabat Wakil Presiden terpilih, Gibran Rakabuming Raka, turut memperkeruh suasana menjelang transisi pemerintahan.
Ade Armando bukan nama baru di dunia publik. Ia dikenal luas sebagai akademisi sekaligus pegiat media sosial yang kerap melontarkan pernyataan kontroversial. Lahir di Jakarta pada 24 September 1961, Ade menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Indonesia (UI) pada 1988.
Ia kemudian melanjutkan studi S2 di Florida State University, Amerika Serikat, pada 1991, dan kembali ke UI untuk menyelesaikan pendidikan doktoralnya pada 2006.
Karier akademiknya cukup panjang. Ia pernah menjabat Ketua Program S1 Ilmu Komunikasi FISIP UI periode 2001–2003, serta menjadi anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada 2004–2007.
Namun, Ade lebih dikenal publik lewat aktivitasnya di media sosial, tempat ia sering menyuarakan pandangan tajam seputar isu agama, politik, dan kebebasan berekspresi.
Beberapa pernyataannya pernah menuai kontroversi, di antaranya saat menyebut “Allah bukan orang Arab” dan menyarankan ayat-ayat Alquran bisa dibaca dengan gaya Minang, Ambon, hingga hiphop.
Pernyataan ini membuatnya dilaporkan ke kepolisian dan sempat menjadi tersangka dalam kasus dugaan pelanggaran UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
Pada 2022, Ade menjadi korban pengeroyokan brutal saat menghadiri demonstrasi menolak penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden di depan Gedung DPR/MPR. Ia mengalami luka parah dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Pada 11 April 2023, Ade Armando resmi mengakhiri kariernya sebagai dosen di UI dan memilih terjun ke dunia politik bersama PSI.
Sejak saat itu, ia tampil sebagai pendukung garis keras Presiden Jokowi dan keluarganya, termasuk ketika terjadi keretakan antara Jokowi dan PDIP menjelang Pemilu 2024.
Sikap vokalnya kerap memantik reaksi, bahkan dari kalangan internal partai. Salah satu pernyataannya yang menyindir PDIP sempat membuat gerah petinggi partai berlambang banteng itu.
Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep—yang juga anak Presiden Jokowi, sampai menjatuhkan sanksi kepada Ade. Ia pun akhirnya meminta maaf dan menjelaskan maksud pernyataannya.
“Saya memang frontal, tapi saya harus akui, Pak Jokowi sudah sukses menerapkan politik gaya Solo selama lebih dari 10 tahun. Jadi ya wajar kalau saya mengikuti resep yang terbukti kemanjurannya,” ujar Ade melalui akun X @adearmando61 pada 6 Oktober 2023.
Kini, Ade Armando terus melanjutkan kiprahnya di dunia politik, dengan gaya khas yang blak-blakan dan penuh kontroversi. Namanya seolah tak pernah lepas dari sorotan publik.
Baca dan Ikuti Media Sosial Tajuk Nasional, KLIK DISINI


