TAJUKNASIONAL.COM Nasib Patrick Kluivert sebagai pelatih Timnas Indonesia kini berada di persimpangan. Kekalahan 0-1 dari Irak pada laga terakhir babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, Sabtu (11/10/2025), membuat peluang Indonesia menuju turnamen terbesar dunia itu resmi tertutup.
Hasil ini menimbulkan gelombang kekecewaan dan kritik luas terhadap performa tim Garuda.
Tekanan publik kepada PSSI untuk mengevaluasi dan bahkan mengganti pelatih semakin meningkat.
Di sisi lain, langkah tersebut tidak bisa dilakukan sembarangan karena berkaitan dengan kewajiban finansial yang besar.
Patrick Kluivert masih terikat kontrak hingga Januari 2027, dengan opsi perpanjangan satu tahun. Artinya, jika federasi memutuskan memecat pelatih asal Belanda itu sebelum masa kontrak berakhir, PSSI wajib memberikan kompensasi sesuai kesepakatan yang tertuang dalam perjanjian kerja.
Mengacu pada catatan FIFA Football Tribunal, Kluivert pernah memenangkan sengketa dengan klub asal Turki, Adana Demirspor, setelah dipecat lebih awal pada tahun 2023.
Dalam kasus tersebut, ia mendapatkan kompensasi sebesar 150 ribu euro atau sekitar Rp2,9 miliar, ditambah remunerasi sekitar 142.666 euro atau setara Rp2,7 miliar.
Dengan mempertimbangkan nilai kontrak dan standar profesional pelatih kelas internasional, nominal kompensasi bagi Kluivert diyakini tidak akan jauh berbeda.
Jika PSSI mengambil keputusan untuk memutus kontrak lebih cepat, federasi berpotensi mengeluarkan dana lebih dari Rp5 miliar.
Situasi ini membuat Erick Thohir selaku ketua umum PSSI berada dalam posisi sulit.
Di satu sisi, ada desakan agar tim nasional segera berbenah usai gagal lolos ke Piala Dunia 2026.
Namun di sisi lain, federasi harus berhitung cermat agar keputusan tidak menimbulkan kerugian besar di tengah upaya pembenahan keuangan organisasi.


