Ia menilai sistem saat ini lebih menguntungkan figur dengan modal sosial tinggi dan akses finansial besar. Akibatnya, kader-kader potensial dengan rekam jejak birokrasi yang kuat justru tersisih dalam kontestasi politik.
Selain kualitas figur, Yusril juga menyoroti tingginya biaya politik sebagai masalah serius. Menurutnya, ongkos Pilkada yang besar membuka ruang lebar bagi praktik politik uang yang merusak sendi demokrasi.
“Kedua juga biaya pemilu yang sangat besar, dan kecenderungan makin membesarnya kemungkinan terjadinya money politik,” ujarnya.
Yusril menegaskan kondisi tersebut tidak sehat bagi perkembangan demokrasi karena kepala daerah terpilih berpotensi didominasi mereka yang populer dan bermodal besar, bukan yang paling kompeten mengelola pemerintahan.
IKUTI BERITA TERBARU TAJUK NASIONAL, MELALUI MEDIA SOSIAL KAMI


