Pertama, human first dan work-life balance sebagai fondasi inovasi berkelanjutan. Ia menekankan lingkungan kerja yang mengabaikan kesehatan mental justru menghambat produktivitas. Kedua, pengelolaan waktu dan pemanfaatan teknologi untuk menyederhanakan proses kerja.
“Waktu kita sama, 24 jam sehari. Yang membedakan adalah bagaimana kita memilih pekerjaan dan cara mengerjakannya. Teknologi harus dimanfaatkan untuk mempermudah kerja dan meningkatkan produktivitas,” tegasnya.
Ketiga, kolaborasi lintas unit sebagai kunci fleksibilitas organisasi menghadapi tantangan kompleks.
Peluncuran buku ini juga menjadi bagian dari gerakan budaya organisasi di lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Menurut Menko PMK, nilai organisasi cerdas dan humanis harus tumbuh sebagai budaya bersama, bukan sekadar konsep.
Apresiasi atas inisiatif tersebut disampaikan Wakil Menteri PANRB Purwadi Arianto dan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Aminudin Aziz. Kemenko PMK dinilai memberi ruang bagi pegawai mengembangkan potensi sekaligus memperkuat reformasi birokrasi yang berdampak pada kinerja dan kebahagiaan kerja.
IKUTI BERITA TERBARU TAJUK NASIONAL, MELALUI MEDIA SOSIAL KAMI


