Hilirisasi juga mendongkrak ekspor, terutama fero-nikel yang mencapai USD14,94 miliar (Jan–Nov 2025). Pasar ekspor makin terdiversifikasi, sementara investasi asing di sektor ini melonjak dari USD8,05 miliar (2021) menjadi USD16,37 miliar (2025).
Menghadapi kelebihan pasokan global dan tren proteksionisme, pemerintah memperkuat instrumen perlindungan melalui bea masuk anti-dumping, pengetatan impor, serta penerapan 23 SNI wajib. Isu dekarbonisasi dan kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) juga diantisipasi lewat dorongan teknologi rendah karbon seperti Electric Arc Furnace (EAF).
“Hilirisasi yang dijalankan secara konsisten telah membuahkan hasil nyata. Kita tidak lagi bergantung pada satu pasar,” tegasnya.
Ke depan, pemerintah mengoptimalkan TKDN, insentif Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), dan pembangunan klaster industri baja terintegrasi untuk menjadikan Indonesia basis produksi baja terkuat di Asia Tenggara.
IKUTI BERITA TERBARU TAJUK NASIONAL, MELALUI MEDIA SOSIAL KAMI


