TAJUKNASIONAL.COM Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago, memberikan perhatian serius terhadap aspek kebersihan dan keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menilai Badan Gizi Nasional (BGN) perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai masih belum memenuhi standar sanitasi yang layak.
Hal tersebut disampaikan Irma dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Kepala BGN yang digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Dalam forum itu, ia membeberkan sejumlah temuan lapangan yang menunjukkan masih lemahnya pengawasan terhadap fasilitas dapur MBG.
Baca Juga: DPR RI–Korea Selatan Jajaki Kerja Sama Digital Currency Masuk Skema APBN
Menurut Irma, banyak dapur SPPG yang beroperasi dengan memanfaatkan rumah tinggal biasa.
Kondisi tersebut dinilai tidak ideal karena minim ventilasi, memiliki sistem drainase yang buruk, serta menimbulkan bau tidak sedap.
Ia mengingatkan, situasi ini berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan jika dibiarkan berlarut-larut.
“Dapur itu dari rumah, mohon maaf ventilasinya tidak ada, drainasenya pembuangan airnya susah, sehingga SPPG-nya bau, sanitasinya buruk. Ini butuh evaluasi serius agar tidak menjadi bom waktu,” tegas Irma dalam rapat tersebut.
Ia menekankan, program MBG menyasar kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil, sehingga standar kebersihan dapur seharusnya menjadi prioritas utama.
Menurutnya, keterlambatan dalam pembenahan dapat berdampak luas terhadap kesehatan penerima manfaat.
Selain persoalan fasilitas, Irma juga menyoroti rendahnya tingkat kepemilikan Sertifikat Laik Hygiene Sanitasi (SLHS) pada dapur SPPG.
Baca Juga: DPR RI Minta Rekonstruksi Pascabencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar Tuntas 2 Tahun
Berdasarkan data yang disampaikan, baru sekitar 32 persen atau sekitar 6.150 dapur yang telah mengantongi sertifikat tersebut.
Artinya, mayoritas dapur MBG masih beroperasi tanpa jaminan standar kebersihan yang memadai.
Kekhawatiran Irma semakin meningkat setelah adanya laporan temuan makanan tidak layak konsumsi dalam program MBG. Ia menyinggung kasus ayam goreng matang yang diduga mengandung belatung, yang menurutnya sulit diterima secara logika.
“Kalau di sayuran mungkin masih bisa dipahami, tapi kalau di ayam goreng yang sudah matang ada belatung hidup, menurut saya itu tidak masuk akal,” ujarnya.
Irma bahkan meminta agar kemungkinan unsur kelalaian berat hingga sabotase tidak dikesampingkan.


