TAJUKNASIONAL.COM Arrmanatha Christiawan Nasir resmi ditunjuk sebagai Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) dalam Kabinet Merah Putih pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dalam kabinet ini, Arrmanatha akan mendampingi Menteri Luar Negeri Sugiono, bersama dua wakil lainnya, yakni Anis Matta dan Arif Havas Oegroseno.
Penunjukan Arrmanatha memperkuat jajaran diplomasi Indonesia dengan sosok yang berpengalaman luas di bidang hubungan internasional.
Sebelum dipercaya menduduki jabatan ini, ia dikenal sebagai Duta Besar Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Otoritas Dasar Laut Internasional, posisi strategis yang membawanya ke kancah diplomasi global.
Baca juga:Â Profil Sugiono, Menteri Luar Negeri Era Prabowo-Gibran
Latar Belakang dan Pendidikan
Arrmanatha Nasir lahir di Bangkok, Thailand, pada 30 Desember 1971. Ia menempuh pendidikan menengah di Whitefield School, London, dan lulus pada 1989.
Minatnya pada ekonomi dan hubungan internasional membawanya melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Buckingham, Inggris, jurusan Ekonomi, dan lulus pada 1993.
Tak berhenti di sana, Arrmanatha meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Leicesterpada 1994, serta Magister Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia pada 2000.
Latar belakang akademiknya yang kuat di bidang ekonomi dan politik internasional menjadi pondasi penting dalam karier diplomatiknya.
Baca juga:Â Profil Anis Matta, Politikus dan Aktivis Dakwah yang Kini Menjabat Wakil Menteri Luar Negeri RI
Awal Karier Diplomatik
Karier Arrmanatha di dunia diplomasi dimulai pada 1997, ketika ia bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI).
Dalam masa pengabdiannya, ia menempati berbagai posisi strategis, termasuk sebagai Kepala Subdirektorat Pertanian di Direktorat Perdagangan, Industri, dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Antara 2001 hingga 2005, Arrmanatha menjabat Sekretaris Kedua di Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) untuk PBB di Jenewa, di mana ia berperan dalam negosiasi perdagangan internasional.
Pengalaman tersebut memperkuat pemahamannya terhadap isu ekonomi global dan kerja sama multilateral.
Setelah itu, ia dipercaya sebagai Sekretaris Pertama di PTRI New York (2008–2012), dengan tanggung jawab menangani isu-isu ekonomi dan pembangunan di forum Majelis Umum PBB dan Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC).
Baca juga:Â Kemenlu Pastikan Tak Ada WNI jadi Korban Pesawat Jatuh di Azerbaijan


