Sugiono menambahkan, hingga saat ini pemerintah Indonesia bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yaounde terus memantau secara ketat perkembangan kasus penculikan tersebut.
Pemantauan dilakukan secara berkala untuk memperoleh informasi terbaru terkait kondisi para korban.
“Saya nunggu laporannya setiap jam, setiap ada update,” ujar dia.
Insiden penculikan tersebut terjadi pada 11 Januari lalu. Warga China dan WNI menjadi korban pembajakan bajak laut di perairan Gabon saat berada di kapal penangkap ikan IB FISH 7 (Liang Peng Yu 828).
Kapal tersebut diserang ketika sedang beroperasi di perairan Equata, sekitar tujuh mil di laut tenggara wilayah Gabon.
Staf Angkatan Laut Gabon, Laksamana Madya Charles Hubert Bekale Meyong, menyatakan bahwa sembilan awak kapal yang diculik merupakan warga Indonesia dan warga China.
Baca Juga: Bendungan Yarlung Tsangpo China Dinilai Jadi Alat Tekanan Geopolitik di Asia
Informasi tersebut memperkuat laporan awal mengenai keterlibatan warga asing dalam insiden pembajakan tersebut.
Pelaksana Tugas Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Heni Hamidah, juga telah mengonfirmasi peristiwa penculikan tersebut.


