Jumat, 13 Februari, 2026

Langka! Xi Jinping Telpon Putin Lalu Trump di Hari yang Sama, Ini Isu yang Dibahas

TAJUKNASIONAL.COM Manuver diplomasi China kembali menyita perhatian dunia. Di saat hubungan antarkekuatan besar kerap dibayangi ketegangan, mulai dari perang di Ukraina, isu Taiwan, hingga dinamika perdagangan Beijing tampak ingin memperlihatkan wajah “stabil” dan mampu berbicara langsung dengan berbagai pihak yang saling berseberangan.

Pekan ini, Presiden China Xi Jinping melakukan langkah yang dinilai jarang terjadi: berkomunikasi intens dengan dua pemimpin paling berpengaruh di panggung global, Rusia dan Amerika Serikat, dalam rentang waktu yang sangat berdekatan.

Pada Rabu (4/2) sore waktu setempat, Xi melakukan panggilan video dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, lalu hanya beberapa jam kemudian disusul percakapan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Rangkaian ini dinilai tidak lazim dalam pola komunikasi tingkat pemimpin, sehingga memantik beragam pembacaan strategis dari pengamat.

“Waktu pelaksanaannya tidak biasa dan menarik. Jarang Xi melakukan panggilan dengan Putin dan Trump dalam satu hari,” tulis George Chen dari The Asia Group dalam ulasan daring.

Baca Juga: China Diguncang Isu Perang Saudara, Pendukung Jenderal Lawan Xi Jinping Satu Persatu Dikabarkan Meninggal Dunia

Kremlin menyebut percakapan Xi dan Putin berlangsung sekitar 1,5 jam. Di sisi lain, Trump menggambarkan pembicaraannya dengan Xi sebagai diskusi yang panjang dan menyeluruh.

“Ini menunjukkan Xi mampu mengendalikan dan dengan mudah berkomunikasi langsung dengan dua pemimpin ‘kuat’ dunia,” ujar Dylan Loh dari Nanyang Technological University, Singapura.

Dalam pembicaraan dengan Trump, sejumlah isu besar disebut ikut dibahas, termasuk perdagangan, Taiwan, perang Rusia di Ukraina, isu Iran, serta rencana kunjungan Trump ke China. Salah satu sorotan ialah pernyataan terkait komitmen peningkatan impor kedelai dari AS hingga 20 juta ton pada musim ini.

Namun, isu Taiwan tetap sensitif. Xi mengingatkan Washington agar berhati-hati dalam penjualan senjata ke pulau yang memerintah sendiri tersebut—yang diklaim China sebagai bagian wilayahnya. Respons dari Taipei cenderung menahan diri.

- Advertisement -
- Advertisement -spot_imgspot_img
Berita Terbaru
- Advertisement -
Berita Lainnya
Rekomendasi Untuk Anda
- Advertisement -
- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini