TAJUKNASIONAL.COM Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali naik satu tingkat ketika pernyataan politik berubah menjadi sinyal pengerahan kekuatan militer .
Di tengah laporan protes besar di Iran yang berujung korban jiwa dan saling tuding soal dalang kerusuhan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras yang menempatkan Teheran di bawah tekanan: penuhi syarat Washington, atau bersiap menghadapi konsekuensi.
Trump melayangkan dua ultimatum kepada Iran sebelum mengancam akan menggempur negara itu “habis-habisan”.
Pernyataan itu ia sampaikan saat berada di sekitar Kennedy Center pada Kamis (29/1).
“Ya, saya sudah memberi tahu mereka dua hal. Pertama: Tidak ada nuklir, dan yang kedua: berhenti membunuh pedemo. Mereka membunuh ribuan pedemo,” kata dia, dikutip Reuters.
Baca Juga: Amerika Serikat Lumpuh di 17 Negara Bagian, Donald Trump Deklarasi Status Bencana
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyampaikan klaim bahwa ia berhasil menggagalkan 837 hukuman gantung di Iran.
Namun, ia menekankan bahwa pemerintah Iran “harus melakukan sesuatu” terkait situasi di dalam negeri—mengaitkan isu nuklir dan penanganan demonstrasi sebagai dua prasyarat utama agar eskalasi dapat dicegah.
Soal angka korban, sejumlah laporan internasional menyebut besarnya dampak kekerasan dalam gelombang demonstrasi.
TIME melaporkan seorang pejabat Iran menyebut sedikitnya 5.000 orang tewas dalam protes nasional (angka yang berbeda dengan klaim kelompok aktivis), menggambarkan betapa simpang siurnya informasi di tengah pembatasan dan ketegangan politik.
Sementara itu, Iran menuding AS dan sekutunya, Israel, sebagai pihak yang membuat demo menjadi rusuh dan memicu perusakan fasilitas umum.
Al Jazeera juga menyoroti “perang narasi” terkait siapa yang paling bertanggung jawab atas kekerasan dan kerusuhan selama gelombang protes.
Baca Juga: Donald Trump Tebar Ancaman Lagi! Setelah Prancis, Kini Giliran Kanada ‘Diultimatum’
Di sisi lain, Trump mengklaim masih membuka jalur dialog, meski tanpa rincian waktu dan topik.
“Ya, saya sudah merencanakan dan berencana untuk melakukan,” kata Trump pada Kamis (29/1) saat ditanya apakah ada kemungkinan berbicara dengan pemerintah Iran, dikutip Reuters.
Namun nada ancamannya tetap kentara ketika ia menyinggung pengerahan aset militer. “Kami punya banyak kapal yang sangat besar, kuat, yang saat ini berlayar menuju Iran. Dan itu akan jadi hal yang bagus, jika kita tak menggunakannya,” ujar Trump.


