Jumat, 13 Februari, 2026

China: “Kemerdekaan Taiwan” Akar Ancaman Stabilitas Selat Taiwan, Taipei Disorot

TAJUKNASIONAL.COM Ketegangan di Selat Taiwan kembali menjadi sorotan, seiring saling balas pernyataan antara Beijing dan Taipei yang kian tajam.

Di tengah kompetisi geopolitik kawasan Indo-Pasifik, isu Taiwan tidak hanya dipandang sebagai urusan domestik China, tetapi juga dinilai berdampak pada peta keamanan regional terutama ketika pembelian senjata, dukungan politik, dan narasi ancaman terus mengemuka di ruang publik internasional.

Pemerintah China menegaskan bahwa gagasan “kemerdekaan Taiwan” merupakan sumber utama yang mengganggu perdamaian dan stabilitas lintas Selat.

Dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (12/2), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyatakan, Kemerdekaan Taiwan’ adalah akar dari semua ancaman.

“Kemerdekaan Taiwan’ adalah akar dari semua ancaman terhadap perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Apa pun yang dikatakan atau dilakukan Lai Ching-te, itu tidak mengubah fakta yang didukung oleh sejarah dan hukum bahwa Taiwan adalah milik China,” kata Lin Jian.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas komentar pemimpin Taiwan Lai Ching-te dalam sebuah wawancara media.

Baca Juga: Beasiswa Huayu Enrichment Scholarship 2026 Dibuka, Kesempatan Belajar Mandarin di Taiwan

Lai mengeklaim, bila Beijing berhasil menyerang dan kemudian menganeksasi Taiwan, maka negara-negara Asia-Pasifik bisa menjadi sasaran berikutnya.

Ia menyebut Jepang, Filipina, serta negara-negara lain di kawasan Indo-Pasifik berpotensi terdampak, bahkan dengan efek lanjutan yang bisa mencapai Amerika Serikat dan Eropa.

Menanggapi itu, Lin Jian melontarkan kritik keras terhadap Lai.

“Pernyataan Lai Ching-te sekali lagi mengungkapkan sifatnya sebagai seorang separatis garis keras untuk ‘kemerdekaan Taiwan’. Ia telah sepenuhnya membuktikan dirinya sebagai perusak perdamaian, pembuat krisis, dan penghasut perang,” tambah Lin Jian.

Lin Jian juga menegaskan bahwa pernyataan Lai tidak mengubah komitmen terhadap prinsip “satu China” dan keyakinan Beijing mengenai reunifikasi.

“Mencari kemerdekaan dengan meminta dukungan asing dan menolak reunifikasi melalui peningkatan kekuatan militer hanyalah sia-sia dan pasti akan gagal,” ungkap Lin Jian.

Dalam wawancara yang sama, disebutkan pula bahwa Lai menyatakan parlemen Taiwan sedang memproses persetujuan anggaran tambahan sebesar 29,3 miliar euro (sekitar 40 miliar dolar AS) untuk mendanai pembelian pertahanan penting, termasuk senjata tingkat tinggi dari AS.

- Advertisement -
- Advertisement -spot_imgspot_img
Berita Terbaru
- Advertisement -
Berita Lainnya
Rekomendasi Untuk Anda
- Advertisement -
- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini