TAJUKNASIONAL.COM Amerika Serikat (AS) secara resmi memulai penjualan minyak mentah Venezuela senilai US$500 juta (sekitar Rp8,45 triliun dengan kurs Rp16.890 per dolar AS).
Penjualan pertama tersebut disampaikan oleh seorang pejabat pemerintahan AS kepada CNN, menyusul rencana pemerintah yang telah diumumkan sebelumnya.
Langkah ini menandai momen penting dalam hubungan energi antara Washington dan Caracas, sekaligus menegaskan ambisi AS untuk memanfaatkan cadangan minyak Venezuela.
Pejabat itu juga mengatakan bahwa penjualan minyak tambahan diperkirakan akan terjadi dalam beberapa hari dan pekan mendatang.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya berniat mengakses cadangan minyak Venezuela, yang dikenal memiliki salah satu cadangan terbesar di dunia.
Trump menyebutkan rencana investasi yang ambisius untuk sektor energi Venezuela, meskipun rincian dari angka investasi tersebut tidak jelas sumbernya.
Juru Bicara Gedung Putih Taylor Rogers mengatakan bahwa tim Trump tengah memfasilitasi diskusi positif dengan perusahaan-perusahaan minyak yang siap melakukan investasi besar untuk memulihkan infrastruktur minyak Venezuela.
Menurutnya, ini merupakan kesempatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam upaya pemulihan sektor energi negara Amerika Latin itu.
Rabu lalu, laporan dari Reuters menunjukkan bahwa minyak mentah Venezuela ditawarkan dengan harga diskon kepada para pedagang, bahkan lebih murah dibandingkan minyak dari negara lain seperti Kanada.
Strategi ini diyakini bertujuan untuk menarik minat pembeli di pasar global sambil AS memperluas distribusi minyak Venezuela.
Langkah AS menjual minyak ini terjadi di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi yang intens.
Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia — diperkirakan mencapai 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari cadangan global — mengalahkan negara-negara seperti Arab Saudi dan Iran.
Meski AS melancarkan penjualan minyak Venezuela, rencana tersebut tidak lepas dari skeptisisme pelaku industri energi.
Dalam pertemuan dengan pejabat Gedung Putih, CEO ExxonMobil Darren Woods menyatakan bahwa kelayakan investasi di negara tersebut masih dipertanyakan, terutama karena risiko hukum dan komersial yang kompleks.
Kendati demikian, pemerintahan Trump terus mendorong keterlibatan sektor swasta Amerika untuk berinvestasi di Venezuela, termasuk melalui ekspor dan pengelolaan income dari penjualan minyak yang kini berada di rekening bank yang dikendalikan AS.


