Uni Eropa juga menerapkan sanksi serupa, ditambah pembatasan terkait isu hak asasi manusia dan dugaan keterlibatan Iran dalam pasokan drone ke Rusia dalam konflik Ukraina.
Tekanan ekonomi tersebut semakin mempersempit ruang gerak perekonomian Iran.
Menurut Iran Open Data, Teheran diperkirakan kehilangan sekitar 20 persen potensi pendapatan ekspor minyak akibat upaya menghindari sanksi, meski pengiriman ke negara-negara seperti China dan Malaysia meningkat.
Jalur penjualan tidak langsung membuat biaya transaksi membengkak dan menekan pendapatan negara.
Sepanjang 2025 saja, rial diperkirakan melemah sekitar 45 persen. Inflasi tahunan tercatat mencapai 42,2 persen pada Desember, termasuk salah satu yang tertinggi di dunia.
Lonjakan harga pangan, perumahan, dan barang impor semakin membebani rumah tangga dan dunia usaha.
Para ekonom menilai stabilisasi inflasi, peningkatan devisa, serta pemulihan kepercayaan terhadap kebijakan moneter menjadi kunci untuk menghentikan kejatuhan rial.
Baca juga:Â Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.603 per Dolar AS di Tengah Optimisme Perundingan AS-China
Tanpa perbaikan signifikan, tekanan terhadap mata uang Iran diperkirakan masih akan berlanjut.


