Subsektor aplikasi, fesyen, kriya, dan kuliner menjadi bidang yang paling diminati investor.
Dari sisi ekspor, subsektor fesyen mencatat nilai tertinggi USD7,09 miliar, disusul kriya USD 5,01 miliar dan kuliner USD767 juta. Amerika Serikat masih menjadi pasar utama, diikuti Swiss, Jepang, dan Uni Emirat Arab.
“Kami ingin produk kreatif Indonesia berpengaruh di panggung global,” tegas Riefky.
Ke depan, Kementerian Ekraf menyiapkan sejumlah program strategis, termasuk World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, serta skema insentif investasi untuk subsektor film, gim, dan aplikasi.
Pemerintah juga tengah menyusun Rencana Induk Ekonomi Kreatif 2026–2045 (Rindekraf) sebagai panduan jangka panjang.
Baca juga: Perkuat Perlindungan Kekayaan Intelektual Pelaku Ekonomi Kreatif, KemenEkraf Gandeng IZIN.co.id
“Dengan kolaborasi nasional dan dukungan daerah, ekonomi kreatif akan menjadi motor menuju Indonesia Emas 2045,” tutup Menteri Ekraf.


