“Batuk itu bisa ada 10 jenis penyebabnya. Kalau dengan tes yang tepat kita bisa tahu, misalnya batuk tipe 9, maka obatnya harus tertentu supaya langsung sembuh,” jelasnya.
BGS menekankan pentingnya pendekatan pharmacogenomics, yakni penyesuaian obat berdasarkan profil genetik pasien.
Tubuh manusia memiliki sekitar 3 miliar pasangan DNA, dan perubahan kecil pada DNA dapat memengaruhi jenis penyakit sekaligus respons terhadap obat.
Contohnya, gen CYP2C19 yang bermutasi dapat membuat obat jantung Clopidogrel tidak efektif pada sekitar 40 persen orang Indonesia.
Indonesia kini menargetkan pengumpulan data genomik hingga 400 ribu sampel pada 2030, dengan 100 ribu sampel ditargetkan dikumpulkan tahun ini.
Sebelumnya, banyak pemeriksaan genomik dilakukan di luar negeri, sehingga data genetik masyarakat tersimpan di luar negeri.
Kini, laboratorium domestik dan regulasi baru memastikan data disimpan di server Kementerian Kesehatan, dengan keamanan setara sistem negara.
“Dengan tes genetik dulu, baru kita kasih obat yang paling cocok. Memang teknologinya canggih dan obatnya bisa mahal, tapi jauh lebih efektif karena sesuai profil genetiknya,” kata BGS menutup penjelasannya.
Baca juga: 7 Air Rebusan Herbal yang Bisa Membantu Membersihkan Paru-paru
Pendekatan ini diharapkan bisa meningkatkan efektivitas pengobatan, menekan biaya medis, dan mempercepat kesembuhan pasien di Indonesia.


