Sistem ini memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot dengan tekanan udara mencapai 1001 hPa.
Pergerakannya ke arah barat berpotensi memperkuat pola pertemuan dan belokan angin dari wilayah barat Sumatera hingga Nusa Tenggara, sehingga mendukung pembentukan awan hujan.
Selain itu, penguatan Monsun Asia yang diperkirakan berlangsung hingga 23 Januari 2026, disertai fenomena seruakan dingin dari daratan Asia, turut meningkatkan kecepatan angin dan pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan khatulistiwa.
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Equator, dan Kelvin yang bersamaan, ditambah kelembapan udara tinggi, semakin memperbesar potensi cuaca ekstrem.
Baca juga:Â Jelang Nataru, Menko AHY dan BMKG Matangkan Mitigasi Cuaca Ekstrem
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan guna meminimalkan dampak bencana yang mungkin terjadi.


