Dengan kemampuan itu, maka tak heran Influenza A H3N2 alias Super Flu lebih cepat menginfeksi banyak orang dalam satu waktu
Sehingga jumlah penderitanya meningkat pesat.
Gejala yang ditimbulkan Infulenza tipe A ini juga relatif lebih berat jika dibandingkan dengan Flu biasa atau Influenza Tipe B.
Sehingga penderitanya akan merasakan sakit yang lebih menyiksa dibanding Flu biasa.
Adapun gejala serangan virus Influenza di antaranya adalah demam tinggi di atas 38 derajat celcius.
Nyeri pada otot dan sendi juga jadi gejala lainnya.
Baca Juga:Â Kasus Super Flu Terdeteksi di Sejumlah Provinsi, Dinkes Pastikan Jakarta Masih Aman
Termasuk sakit kepala dan rasa lemas berat pada penderitanya.
Berbeda dengan Flu tipe B yang relatif lebih ringan gejalanya.
Faktor risiko dan pencegahan Super FluÂ
Faktor penting yang harus diperhatikan adalah komorbid.
Secara sederhana, Komorbid adalah penyakit lain yang ada pada seorang penderita satu penyakit.
Sehingga saat terserang satu penyakit, ada penyakit lain yang juga bisa muncul secara bersamaan.
Seperti diabetes yang umumnya menjadi komorbid bagi penderita penyakit hipertensi alias darah tinggi.
Baca Juga:Â Wabah Super Flu Meluas di Inggris, Rumah Sakit dan Sekolah Kembali Perketat Aktivitas
Dan juga sakit jantung.
Serangan Super Flu bisa meningkatkan risiko bahaya jika terdapat faktor komorbid lain.
Seperti orang dengan penyakit Asma, infeksi paru-paru berat atau pneumonia bisa meningkatkan risiko dari serangan Super Flu ini.
Adapun cara pencegahannya di antaranya seperti:
1. Upayakan mengenakan masker saat berada di luar rumah.
2. Cuci tangan teratur dan terapkan protokol kesehatan, yang lazim seperti di masa Covid-19 lalu.
3. Jika sedang terpapar Super Flu , pastikan jaga etika bersin dan batuk saat berada di luar rumah agar mencegah risiko penularan kepada orang lain.
4. Gunakan vaksin Influenza jika perlu.
5. Jika sedang sakit, upayakan istirahat di rumah dan dapatkan layanan medis yang memadai agar mempercepat proses penyembuhan. (*)


