Profil dr Elda Putri Rahardini, Dokter Lulusan Cumlaude LPDP UGM yang Viral usai Komentar ke Pasien BPJS

TAJUKNASIONAL.COM Nama dr Elda Putri Rahardini menjadi perhatian publik setelah komentarnya terhadap pasien BPJS Kesehatan, Yurizal Tri Chaerawan, viral di media sosial dan memicu kritik luas.

Komentar tersebut dinilai tidak mencerminkan empati yang seharusnya dimiliki seorang tenaga kesehatan, terlebih setelah pasien tersebut meninggal dunia.

Di tengah polemik yang berkembang, banyak warganet mulai mencari profil dan rekam jejak pendidikan dokter yang dikenal memiliki prestasi akademik tersebut.

Berdasarkan informasi yang tersedia untuk publik, dr Elda merupakan lulusan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menyelesaikan pendidikan dokter dengan predikat cum laude sebelum melanjutkan studi ke luar negeri.

Karier akademiknya berlanjut di Kobe University, Jepang, tempat ia menempuh program doktor (Ph.D.) di bidang Cardiovascular Science atau ilmu kardiovaskular.

Baca Juga: Profil Ilhan Fandi, Striker Singapura Berdarah Pacitan, Ancaman Timnas Indonesia di Piala AFF 2026

Pendidikan tersebut diperoleh melalui dua beasiswa bergengsi, yakni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Monbukagakusho (MEXT) dari Pemerintah Jepang.

Dalam profil profesionalnya, dr Elda juga pernah mencantumkan pengalaman sebagai PGY1 Internal Medicine Resident, yakni dokter residen tahun pertama pada bidang penyakit dalam.

Meski memiliki latar belakang pendidikan yang cemerlang, namanya mendadak menjadi sorotan setelah akun media sosial yang dikaitkan dengannya mengomentari unggahan Yurizal Tri Chaerawan, pasien BPJS yang sebelumnya mengeluhkan lamanya menunggu ruang rawat inap di rumah sakit.

Komentar yang berbunyi “PP-nya kaya orang have tetapi aslinya haven’t kah? Haven’t some brain cells” memicu gelombang kecaman karena dianggap menghina pasien serta tidak mencerminkan sikap profesional seorang dokter.

Polemik semakin meluas setelah Yurizal meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Peristiwa tersebut memunculkan diskusi publik mengenai etika penggunaan media sosial oleh dokter dan tenaga kesehatan.

Menanggapi kritik yang terus mengalir, dr Elda akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui surat pernyataan pada Selasa (4/8/2026).

Dalam surat tersebut, ia mengakui komentarnya tidak pantas dan bertentangan dengan nilai-nilai profesi kedokteran.

Baca Juga: Siapa Ichsan Porosi? Profil Sekda Konawe Selatan yang Terseret Kasus Dugaan Penganiayaan

“Saya mengakui sepenuhnya bahwa komentar yang saya tuliskan melalui akun media sosial saya beberapa waktu lalu sangatlah tidak pantas, tidak etis, dan menunjukkan ketiadaan empati,” tulis dr Elda.

- Advertisement -
Berita Terbaru
- Advertisement -
Berita Lainnya
Rekomendasi Untuk Anda
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini